Koleksi Cerita Online

Roda Keberuntungan

Posted: | | 0 comments

HARI itu adalah hari aib yang tak terlupakan bagi Perguruan Yoshioka. Tak pernah sebelumnya pusat seni
bela diri yang bernama besar ini menderita penghinaan yang begitu tandas.
Murid-murid yang biasanya bersemangat kini duduk berkeliling dalam keputusasaan yang mengenaskan;
wajah mereka murung dan buku-buku jari mereka yang putih mencerminkan penderitaan dan frustrasi.
Sebagian besar dari mereka ada di kamar depan yang berlantai ka yu, sedangkan sebagian kecil di kamar
samping. Hari sudah senja; biasanya mereka sudah berangkat pula ng atau pergi minum. Tak seorang pun
beranjak pergi. Senyap bagai kuburan. Suasana itu hanya dipeca hkan oleh derit gerbang depan yang
sesekali berbunyi.
"Diakah itu?"
"Apa Tuan Muda sudah kembali?"
"Belum." Ini diucapkan oleh seorang lelaki yang sudah setengah sore itu bersandar putus asa pada tiang
pintu masuk.
Dan setiap kali pula orang-orang itu lebih dalam lagi terbenam dalam rawa kemuraman. Lidah-lidah
berdecap putus asa, dan pelupuk mereka melelehkan air mata pedih.
Dokter keluar dari kamar belakang dan berkata kepada orang yang bersandar di pintu masuk, "Saya tahu
Seijuro tak ada di sini. Tapi apa Anda tidak tahu di mana dia?"
"Sedang dicari. Barangkali sebentar lagi kembali." Dokter mendeham dan pergi.
Di depan perguruan itu, lilin altar pemujaan Hachiman dikitari lingkaran sinar yang melantunkan bencana.
Tak seorang pun akan membantah bahwa pendiri, dan guru pertama,Yoshioka Kempo,adalah orang yang
jauh lebih besar daripada Seijuro atau adik lelakinya. Kempo memulai hidup hanya sebagai pedagang,
seorang pencelup kain, tetapi dari tak henti-henti mengulang irama dan gerak pencelupan anti luntur,
akhirnya ia menemukan cara baru memainkan pedang pendek. Sesudah mempelajari cara menggunakan
tombak-kapak dari sala h seorang prajurit-pendeta yang cakap di Kurama dan kemudian mendalami Delapan
Seni Pedang Gaya Kyoto, ia pun menciptakan gaya yang sepenuhnya orisinal.Teknik pedang pendeknya
kemudian dipergunakan oleh shogun-shogun Ashikaga yang mendatangkannya sebagai guru resmi. Kempo
adalah seorang ahli besar, orang yang kearifannya setara dengan keterampila nnya.
Sekalipun kedua anaknya,Seijuro dan Denshichiro, menerima latihan sekeras ayahnya, mereka telah

mewarisi kekayaan yang besar dan kemasyhuran ayahnya, dan menurut pendapat beberapa orang itulah
sebab dari kelemahan mereka. Seijuro biasa dipanggil "Tuan Muda ", tapi sebenarnya ia belum benar-benar
mencapai taraf keterampilan yang dapat memikat banyak pengikut. Para siswa datang ke sekolah itu karena
di bawah pimpinan Kempo, Gaya Yoshioka telah menjadi demikian termasyhur, hingga bisa masuk sekolah
itu saja sudah berarti diakui oleh masyarakat sebagai prajurit terampil.
Sesudah runtuhnya ke-shogun-an Ashikaga tiga dasawarsa sebelum itu, Keluarga Yoshioka tidak lagi
memperoleh tunjangan resmi, tetapi pada masa hidup Kempo yang hemat, keluarga itu sedikit demi sedikit
telah berhasil memupuk kekayaan besar. Selain itu ia memiliki bangunan besar di Jalan Shijo, dengan siswa
yang jumlahnya lebih besar daripada perguruan mana pun di Kyoto; Kyoto waktu itu adalah kota terbesar di
negeri ini. Tetapi sebenarnya sekolah yang menduduki taraf puncak di bidang seni pedang itu tinggal
namanya saja.
Dunia dl luar dinding perguruan yang putih besar ini telah berubah lebih dari yang disadari oleh kebanyakan
orang di dalamnya. Bertahun-tahun mereka telah menepuk dada, bermalas-malasan, dan hanya bermainmain,
dan waktu pun melangkahi mereka. Hari ini mata mereka terbuka oleh kekalahan yang memalukan,
setelah bertanding dengan seorang pemain pedang pedesaan yang tak dikenal.
Menjelang tengah hari, salah seorang pesuruh datang ke dojo untuk melaporkan bahwa seorang yang
menamakan dirinya Musashi berdiri di pintu, mohon diizinkan masuk. Ketika ditanya macam apa orang itu,
pesuruh menjawab bahwa orang itu seorang ronin, datang dari Miyamoto di Mimasaka, umur dua puluh satu
atau dua puluh dua, kira-kira 1,83 meter tingginya, dan kelihatannya agak bodoh. Rambutnya yang tidak
disisir setidak-tidaknya satu tahun diikat sembarangan saja dengan kain gombal yang kemerah-merahan,
sedangkan pakaiannya begitu kotor, hingga susah ditentukan hitam atau cokelatkah warnanya, poloskah
atau berpola kembang. Pesuruh merasa mencium bau orang itu,tapi mengakui bahwa mungkin juga ia
keliru. Tamu itu menyandang kantong kulit beranyam yang biasa disebut orang tas belajar prajurit; ini
barangkali berarti ia seorang shugyosha, salah seorang dari para samurai yang banyak jumlahnya waktu itu,
yang kerjanya mengembara dan menghabiskan waktu di luar tidurnya untuk mempelajari seni pedang.
Namun demikian, kesan umum yang didapat pesuruh itu adalah bahwa orang yang namanya Musashi itu
jelas janggal hadir di Perguruan Yoshioka tersebut.
Kalau orang itu hanya minta makan, tidak masalah. Tapi ketika orang-orang mendengar bahwa pengganggu
bulukan itu datang ke gerbang besar untuk menantang Yoshioka Seijuro yang termasyhur itu bertanding,
mereka pun terbahak-bahak. Beberapa orang berpendapat lebih baik mengusirnya saja tanpa banyak ribut,
sedang yang lain-lain mengatakan mereka harus melihat dulu, gaya apa yang dipakainya dan siapa nama
gurunya.
Pesuruh, yang sama merasa geli seperti yang lain-lain, pergi dan kembali lagi dengan kabar bahwa tamu itu
sewaktu masih kanak-kanak belajar menggunakan pentung dari ayahnya, dan kemudian memungut
pelajaran dari prajurit mana saja yang lewat di kampungnya. Meninggalkan rumah ketika berumur tujuh
belas, dan "karena alasan-alasan pribadi" ia pun menenggelamkan diri dalam mempelajari ilmu
pengetahuan pada umur delapan belas, sembilan belas,dan dua puluh. Sepanjang tahun sebelum itu, ia
hanya sendirian tinggal di pegunungan, melulu berguru pada pepohonan dan keheningan gunung. Oleh
karena itu,tidak dapat ia menyebutkan suatu aliran khusus atau nama seorang guru.Tapi di masa depan ia
berharap akan mempelajari ajaran-ajaran Kiichi Hogen, ahli hakikat Delapan Gaya Kyoto, dan akan
berusaha meniru Yoshioka Kempo yang agung dengan menciptakan gayanya sendiri, yang menurut
keputusannya akan dinamaka nnya Gaya Miyamoto. Memang ia memiliki banyak kekurangan, tapi itulah
tujuannya, dan untuk itulah ia berhasrat bekerja dengan sepenuh hati dan jiwanya.
Pesuruh mengakui bahwa semua itu merupakan jawaban yang jujurdan tidak dibuat-buat, tetapi orang itu
beraksen kampung dan hampir tiap kata ia ucapkan dengan menggagap. Pesuruh dengan senang hati
menirukannya untuk para pendengarnya,dan mereka pun sekali lagi terpingkal-pingkal.
Orang itu tentunya sudah sinting. Menyatakan tujuannya menciptakan gaya sendiri benar-benar gila. Untuk

memberikan sedikit ajaran kepada orang sombong itu, para siswa menyuruh pesuruh keluar lagi, kali ini
dengan pertanyaan apakah tamu itu sudah menunjuk orang untuk mengambil mayatnya sesudah
pertandingan nanti.
Musashi memberikan jawaban, "Kalau kebetulan saya terbunuh, ta k ada bedanya, apakah Anda membuang
tubuh saya ke Gunung Toribe atau melemparkannya ke Sungai Kamo bersama sampah. Baik untuk yang
pertama maupun yang kedua, saya berjanji tak akan menuntut balas."
Menurut pesuruh, caranya menjawab kali ini sangat jelas, tidak mengandung kekakuan seperti jawabanjawaban
sebelumnya.
Sesudah ragu-ragu sebentar, akhirnya satu orang berkata, "Suruh dia masuk!"
Itulah awal mulanya; para siswa menyangka mereka akan berhasil menyayat pendatang baru itu sedikit,
kemudian melemparkannya ke luar. Namun pada pertandingan pertama saja juara perguruanlah yang keluar
sebagai pihak yang kalah. Tangannya putus. Hanya sedikit kulit yang masih menghubungkan pergelangan
dengan tangan.
Satu demi satu yang lain-lain pun menerima tantangan orang asing itu, dan satu demi satu pula mereka
kalah secara memalukan. Beberapa orang luka parah, dan pedang kayo Musashi bergelimang darah.
Sesudah kekalahan kesekian kali, para siswa berubah jadi ingin membunuh; kalaupun mereka semua harus
terbunuh, tak akan mereka membiarkan orang gila biadab ini pergi dalam keadaan hidup, membawa serta
kehormatan Perguruan Yoshioka.
Musashi sendirilah yang mengakhiri pertumpahan darah itu. Sejak tantangannya diterima, tak ada rasa
kuatir padanya tentang jatuhnya korban, tapi ia menyatakan, "Tak ada gunanya melanjutkan ini sebelum
Seijuro kembali," dan ia menolak untuk bertempur lagi. Karena tak ada pilihan lain, atas permintaannya
sendiri ia dipersilakan masuk ke sebuah kamar untuk menunggu. Baru pada waktu itulah satu orang tersadar
dan memanggil dokter.
Tak lama sesudah dokter pergi, suara-suara yang memekikkan nama dua orang yang terluka menyebabkan
selusin orang masuk kamar belakang. Mereka mengerumuni kedua samurai itu dengan sikap tak percaya
bercampur takjub; wajah mereka kelabu dan napas mereka tidak tetap.Kedua orang itu tewas.
Langkah-langkah kaki bergegas melintas dojo dan masuk ke kamar mati. Para siswa memberikan jalan bagi
Seijuro dan Toji. Kedua nya pucat, seakan-akan baru saja keluar dari air terjun ya ng dingin.
"Apa yang terjadi di sini?" tanya Toji. "Apa arti semua ini?" Nada bicaranya gusar seperti biasa.
Seorang samurai yang berlutut dengan wajah tercekam di camping bantal salah seorang kawannya yang
ma ti melontarkan pandangan penuh tuduhan kepada Toji, dan katanya, "Kau yang mesti menjelaskan apa
yang sedang terjadi.Kau yang membawa Tuan Muda minum-minum. Nab, kali ini kau sudah bertindak
terlalu jauh."
"Jaga lidahmu, atau kupotong nanti."
"Ketika Tuan Kempo masih hidup, tak ada hari lewat tanpa dia ada di dojo",
"Lantas mau apa? Tuan Muda ingin bersenang-senang sedikit, dan kami pergi ke Kabuki. Apa maksudmu
bicara demikian di depannya? Kaupikir siapa kau ini?"
"Apa untuk melihat Kabuki saja dia mesti tinggal di luar sepanjang malam? Bisa-bisa Tuan Kempo bang kit
dari kuburnya."
"Cukup!" teriak Toji sambil menyerang orang itu.
Ketika yang lain-lain campur tangan pula dan mencoba memisahkan serta menenangkan kedua orang itu,
satu suara berat karena beban sakit terdengar sedikit mengungguli suara percekcokan itu. "Kalau Tuan
Muda sudah kembali, sudah waktunya menghentikan percekcokan. Terserah kepadanya untuk
mengembalikan kehormatan perguruan. Ronin itu tidak boleh meninggalkan tempat ini dalam keadaan
hidup."
Beberapa di antara yang luka menjerit dan memukul-mukul lantai. Tindakan itu merupakan celaan yang
seterang-tera ngnya terhadap mereka yang belum menghadapi pedang Musashi.

Bagi samurai zaman itu, yang terpenting di dunia ini adalah kehormatan. Sebagai golongan, mereka benarbenar
saling berlomba mencari jalan untuk mati lebih dulu dalam mempertahankannya. Pemerintah sampa i
hari-hari terakhir terlampau sibuk dengan perang, hingga tak ada waktu untuk menyusun sistem administrasi
yang memadai bagi suatu negeri yang damai, bahkan Kyoto pun hanya diatur dengan seperangkat
peraturan yang longgar dan bersifat tambal sulam. Toh pentingnya kehormatan pribadi bagi golongan
prajurit itu tetap dihargai, baik oleh kaum petani maupun orang-orang kota, dan ini besar artinya dalam
menjamin ketenteraman. Pendapat umum mengenai mana tindakan terhormat dan mana yang tidak telah
memungkinkan rakyat mengatur diri sendiri, sekalipun hanya dengan undangundang yang tidak memadai.
Sekalipun tidak terpelajar, orang-orang dari Perguruan Yoshioka sama sekali bukan orang-orang rendah
yang tak kenal malu. Ketika mereka sadar kembali sesudah menderita guncangan kekalahan itu,hal
pertama yang terpikir oleh mereka adalah kehormatan, yaitu kehormatan perguruan, kehormatan guru,
kehormatan pribadi mereka sendiri.
Dengan menyingkirkan permusuhan perseorangan, sebagian besar dari mereka berkumpul di sekitar
Seijuro, memperbincangkan apa yang harus diperbuat. Sayang sekali, kebetulan hari itu Seijuro sedang
kehilangan semangat juangnya. Pada saat itu, ia yang seharusnya berada dalam keadaan prima, justru loyo,
lemah, dan kehabisan tenaga.
"Di mana orang itu?" tanyanya seraya mengikatkan lengan kimononya dengan tali kulit.
"Dia di kamar kecil di samping kamar terima tamu," kata seorang murid sambil menunjuk ke seberang
kebun.
"Panggil dia!" perintah Seijuro. Mulutnya kering karena tegang. Ia pun duduk di tempat guru, sebuah mimbar
kecil, dan bersiap-siap menerima salam dari Musashi. Dipilihnya salah satu pedang kayu yang disodorkan
para muridnya, dan dipegangnya tegak di samping.
Tiga-empat orang menerima perintah dan mulai meninggalkan tempat, tetapi Toji dan Ryohei menyuruh
mereka menanti.
Menyusullah bisik-bisik lama, jauh dari pendengaran Seijuro. Konsultasi diam-diam itu berpusa t pada Toji
dan murid-murid senior lain perguruan itu. Tak lama kemudian, para anggota keluarga dan beberapa orang
lain menggabungkan diri, begitu banyak yang hadir di situ, hingga kerumunan itu terpecah dalam kelompokkelompok.
Meski berlangsung seru, perdebatan dapat diselesaikan dalam waktu cukup singkat.
Sebagian besar tidak hanya memprihatinkan nasib perguruan, melainkan juga menyadari benar kekurangan
Seijuro sebag ai seorang pejuang, dan mereka pun menyimpulkan bahwa tidak bijaksana membiarkannya
menghadapi Musashi satu lawan satu, waktu itu juga dan di tempat itu juga. Dua orang sudah tewas dan
beberapa orang terluka. Kalau Seijuro pun menderita kekalahan, krisis yang mengancam perguruan akan
berat luar biasa. Itu tindakan yang terlampau riskan.
Kebanyakan orang itu berpendapat, walaupun tidak diucapkan, bahwa jika waktu itu Denshichiro hadir, tidak
banyak yang perlu dikuatirkan. Pada umumnya ada anggapa n bahwa ia lebih cocok untuk melanjutkan kerja
ayahnya, tapi karena ia anak kedua dan tidak mempunyai tanggung jawab serius, maka ia pun menjadi
orang yang berwatak sangat santai. Pagi itu ia sudah meninggalkan rumah dengan teman-temannya ke Ise,
dan bahkan tidak merasa perlu berpesan kapan akan pulang.
Toji mendekati Seijuro, dan katanya, "Kami sudah mencapai kesimpulan."
Mendengar laporan yang disampaikan dengan bisikan itu, Seijuro tampak semakin berang, sampai akhirnya
ia pun tersengal-sengal dan hampir tidak dapa t mengendalikan kemarahannya lagi. "Mengakali dia?"
Toji mencoba meredakan dengan gerakan mata, tapi Seijuro tidak dapat diredakan. "Aku tak setuju dengan
tindakan seperti itu! Itu pengecut. Bagaimana kalau sampai kedengaran orang bahwa Perguruan Yoshioka
takut pada seorang prajurit tak dikenal, dan menyembunyikan diri, lalu menyergapnya?"
"Tenanglah," Toji memohon, tapi Seijuroterus juga membangkang. Maka Toji pun mengungguli suaranya,
dan katanya keras, "Serahkan pada kami. Kami yang akan mengurus."
Namun Seijuro tak juga bisa menerima. "Apa menurutmu aku, Yoshioka Seijuro, akan kalah dengan si

Musashi atau siapa pun namanya itu?"
"Oh, tidak, sama sekali tidak begitu," kata Toji berbohong. "Cuma kami tak percaya Anda dapat memperoleh
kehormatan dengan mengalahkan dia. Kedudukan Anda terlalu tinggi untuk menghada pi gelandangan
kurang ajar seperti itu. Lagi pula, tidak ada alasan kenapa orang di luar rumah ini mesti tahu soal itu, bukan?
Hanya satu yang penting, yaitu tidak membiarkan dia pergi dalam keadaan hidup."
Belum selesai mereka beradu pendapat, jumlah orang yang berada di dalam ruangan sudah berkurang lebih
dari setengahnya. Diam-diam, seperti kucing, mereka menghilang ke kebun, ke arah pintu belakang dan ke
kamar-kamar dalam, dan secara hampir tidak kelihatan menghilang ke kegelapan.
"Tuan Muda,kita tak dapat menangguhkannya lagi," kata Toji tegas, lalu memadamkan lampu. Ia pun
melonggarkan pedang dalam sarungnya dan menaikkan lengan kimononya. Seijuro tetap duduk. Sekalipun
dalam batas-batas tertentu ia puas karena tidak harus bertempur melawan orang asing itu, namun ia sama
sekali tidak merasa senang. Menurut pengertiannya, dengan mengambil langkah itu, berarti para muridnya
menilai rendah kemampuannya. Ia pun terkenang bagaimana ia telah mengabaikan latihan sejak
meninggalnya ayahnya, dan ini membuatnya sangat sedih.
Rumah itu semakin dingin dan senyap seperti dasar sumur. Karena tak dapat duduk tenang, Seijuro pun
bangkit dan berdiri dekat jendela. Lewat pintu-pintu kamar Musashi yang tertutup kertas ia dapat melihat
cahaya lampu yang berkelap-kelip lembut. Itulah satu-satunya cahaya yang ada di sekitar tempat itu.
Banyak juga mata lain mengintip ke arah yang sama. Para penyerang meletakkan pedangnya di tanah di
hadapan mereka, menahan napas dan mendengarkan baik-baik setiap bunyi yang dapat mengungkapkan
kepada mereka sedang apakah Musashi.
Apa pun kekurangan Toji, ia tela h memperoleh latihan sebagai seorang samurai. Mati-matian sekarang ia
mencoba membayang-bayangkan apa yang mungkin diperbuat Musashi. "Dia sama sekali tak dikenal di ibu
kota, tapi dia seorang pendekar hebat. Mungkinkah dia sekadar duduk diam di kamar itu? Pengepungan
kami cukup hati-hati, tapi dia tentunya merasa bahwa orang banyak sedang mendesaknya sekarang. Setiap
orang yang mencoba hidup sebagai prajurit pasti mengetahuinya; kalau tidak, dia sudah mati sekarang.
"Mm, barangkali dia sudah tertidur. Agaknya itulah yang terjadi. Memang sudah lama juga dia menanti.
"Di pihak lain, dia sudah membuktikan dirinya cerdik. Kemungkinan dia sedang berdiri di sana dalam
keadaan siap tempur, membiarkan lampu menyala untuk membuat orang-orang ini kehilangan
kewaspadaan dan tinggal menanti serangan pertama.
"Mestinya begitu. Betul begitu!"
Orang-orang itu menanti dengan gelisah, karena orang yang menjadi sasaran nafsu membunuh mereka
juga sama inginnya membantai mereka. Mereka pun bertukar pandang, diam-diam saling menanyakan,
siapa yang pertama-tama akan maju menyerbu dan mempertaruhkan nyawanya.
Akhirnya Toji yang licik dan persis berada di luar kamar Musashi, berseru, "Musashi! Maaf membiarkanmu
lama menunggu! Boleh aku bertemu sebentar?"
Karena tak ada jawaban, Toji menyimpulkan bahwa Musashi memang sudah siap menanti serangan. Sambil
bersumpah tak akan membiarkan Musashi meloloskan diri, Toji pun memberikan isyarat ke kanan dan ke
kiri, kemudian menerjang ke arah pintu. Bagian bawah pintu bergeser sekitar dua kaki ke dalam kamar,
terlepas dari lekuknya akibat hantaman itu. Mendengar bunyi itu, orang-orang yang seharusnya menyerbu
ke dalam kamar secara tak sengaja mundur selangkah. Tapi dalam beberapa detik saja seseorang
menyerukan serang, dan semua pintu lain dalam kamar itu pun gemerantang terbuka.
"Dia tak ada!"
"Kamar kosong!"
Suara-suara yang mencerminkan pulihnya keberanian pun terdengar menggerutu menyatakan tak percaya.
Musashi masih duduk di sana sejenak sebelum itu, ketika seseorang membawakan lampu. Lampu masih
menyala, bantalan yang tadi didudukinya masih di sana, anglo masih menyala dengan baik, dan masih ada
cangkir teh yang belum disentuh. Tapi Musashi tak ada!

Satu orang berlari ke beranda, memberitahukan kepada yang lain-lain bahwa Musashi sudah pergi. Dari.
bawah beranda dan dari tempat-tempat gelap di kebun para murid dan pesuruh pun berkumpul,
mengentakkan kaki dengan marah dan memaki-maki orang yang menjaga kamar yang kecil itu. Namun para
penjaga tetap menyatakan bahwa Musashi tak mungkin pergi.Ia memang pergi ke kamar kecil kurang dari
sejam sebelum itu, tapi segera kembali ke kamarnya lagi. Tak ada jalan baginya untuk pergi tanpa terlihat.
"Apa maksudmu dia tidak kelihatan, seperti angin?" satu orang bertanya dengan nada mencemooh.
Tepat waktu itu satu orang yang selama itu celingukan di kamar kecil berseru, "Dari sini dia pergi! Lihat,
papan-papan lantai ini sudah lepas."
"Belum lama lampu itu tadi dirapikan. Tak mungkin dia sudah pergi jauh!"
"Kejar dia!"
Kalau Musashi memang melarikan diri, pasti dalam hatinya ia seorang pengecut! Jalan pikiran ini
mengobarkan kembali semangat para pengejarnya yang beberapa lama sebelumnya sudah sangat
kehilangan semangat. Baru sa ja mereka berduyun-duyun keluar dari gerbang depan, belakang, dan
samping, satu orang memekik, "Itu dia!"
Dekat gerbang belakang, satu sosok melejit keluar dari bayangan, menyeberang jalan,dan masuk lorong
gelap di sisi lain. Sosok itu berlari seperti kelinci, melenceng ke satu sisi ketika hampir mencapai dinding di
ujung lorong. Dua-tiga orang murid berhasil mengejarnya antara Kuyado dan puing-puing kebakaran
Honnoji.
"Pengecut!"
"Mau lari, ya?"
"Sesudah tindakanmu hari ini?"
Terdengar bunyi tonjokan dan tendangan keras, juga lolongan menantang. Orang yang terkepung itu
memperoleh kembali kekuatannya dan membalik menghadapi para penangkapnya. Dalam sekejap ketiga
orang yang menjambak tengkuknya terjerembap ke tanah. Pedang orang itu sudah mau ditebaskan kepada
mereka, ketika orang keempat datang berlari dan berseru, "Tunggu! Salah! Ini bukan orang yang kita kejar."
Matahachi menurunkan pedangnya, dan orang-orang itu pun berdiri.
"Hei, kau benar! Bukan Musashi!"
Selagi mereka berdiri di sana dengan kebingungan, Toji sampai di tempat kejadian. "Sudah kalian tangkap?"
tanyanya.
"Uh, orang lain-bukan orang yang bikin ribut itu."
Toji memperhatikan tangkapan itu dengan lebih saksama, dan katanya heran, "Ini orang yang kalian kejar?"
"Ya. Kau kenal dia?"
"Baru tadi siang aku melihatnya di Warung Teh Yomogi."
Sementara mereka memandangnya dengan diam dan curiga, Matahachi tenang-tenang merapikan
rambutnya yang kusut clan meratakan kimononya. "Apa dia pemilik Yornogi?"
"Tidak, nyonya rumah mengatakan padaku bukan. Rupanya dia cuma semacam benalu."
"Kelihatannya memang mencurigakan.Apa kerjanya di dekat-dekat gerbang ini? Memata-matai?"
Tapi Toji sudah mulai bergerak. "Kalau kita menghabiskan waktu dengan dial kita akan kehilangan Musashi.
Sekarang kita berpencar saja dan jalan. Paling tidak, kita bisa tahu di mana dia tinggal."
Terdengar suara-suara mengiakan, dan mereka pun berangkat.
Menghadapi parit Honnoji, Matahachi berdiri diam dengan kepala menunduk,sementara orang-orang itu
lewat berlarian. Ketika orang terakhir lewat, ia pun berseru kepadanya.
Orang itu berhenti. "Ada apa?" tanyanya.
Matahachi mendekatinya, dan tanyanya, "Berapa umur orang yang namanya Musashi itu?"
"Mana aku ta hu?"
"Apa kira-kira seumurku?"
"Kira-kira begitu. Ya."

"Apa dia dari Desa Miyamoto di Provinsi Mimasaka?"
"Ya."
"Kukira 'Musashi' itu cara lain untuk membaca dua huruf yang bisa dipakai menuliskan 'Takezo', kan?"
"Kenapa kau menanyakan sernua itu? Apa dia temanmu?"
"Ah, tidak. Aku cuma heran."
"Nah, lain kali apa tidak lebih baik kau jauh-jauh saja dari tempat-tempat yang bukan tempatmu? Kalau
tidak, kau bisa mendapat kesulitan besar hari-hari ini." Sesudah menyampaikan peringatan itu, orang itu pun
lari.
Matahachi lalu berjalan pelan-pelan di samping parit gelap itu, dan sekali-sekali berhenti untuk memandang
bintang-bintang. Ia rupanya tidak mempunyai tujuan khusus.
"Pasti dialah itu!" demikian kesimpulannya. "Dia tentunya sudah mengubah namanya menjadi Musashi dan
menjadi pemain pedang. Boleh jadi dia lain sekali dengan dahulu." Maka disurukkannya tangannya ke dalam
obi,dan mulailah ia menendang-nendang sebuah batu dengan jari sandalnya. Tiap kali menendang, ia pun
merasa melihat wajah Takezo di hadapannya.
"Ini bukan waktu yang tepat," gumamnya. "Aku akan malu kepadanya kalau dia melihatku dalam keadaan
seperti ini. Aku cukup punya harga diri dan takkan membiarkan dia memandang rendah kepadaku.... Tapi
kalau gerombolan Yoshioka itu berhasil mengejarnya, kemungkinan mereka akan membunuhnya. Di mana
dia berada kira-kira? Paling tidak,ingin aku memperingatkannya."